Jumat, 20 Mei 2011

Jamaluddin al-Afghani

Sayyid Jamaluddin Al-Afghani (1838/9-1897) merupakan salah satu tokoh yang pertama kali menyatakan kembali tradisi Muslim dengan cara yang sesuai untuk menjawab berbagai problem penting yang muncul akibat Barat semakin mengusik Timur Tengah di abad kesembilanbelas.

Sebagai modernis Islam pertama, yang pengaruhnya dirasakan di beberapa negara, Afghani memicu kecenderungan menolak tradisionalisme murni dan westernisme murni. Meski Afghani di kemudian hari –dan sejak meninggalnya– dikaitkan khususnya dengan pan-Islam, tulisan pan-Islamnya hanya menjadi bagian dari dasawarsa penting 1880-an. Dalam hidupnya dia mempromosikan berbagai sudut pandang yang sering bertentangan. Dan pikirannya juga memiliki afinitas dengan berbagai kecenderungan di dunia Muslim. Ini meliputi liberalisme Islam yang diserukan khususnya oleh Muhammad ‘Abduh, orang Mesir yang menjadi muridnya.

Pada masa mudanya ia dididik di Iran, dan juga di kota-kota suci Syi’ah di Irak dia piawai dalam filsafat Islam dan juga dalam Syi’ah mazhab Syaikhi, yang merupakan ragam Syi’ah yang sangat filosofis pada abad kedelapan belas dan kesembilan belas.

Tak seperti dunia Arab dan Turki, di mana kebanyakan filsafat yang mendapat inspirasinya dari Yunani selama berabad-abad tidak diajarkan karena dianggap menyimpang dari Islam, di Iran tradisi filsafat terus berlangsung. Buku-buku karya Ibn Sina dan di kemudian hari karya filosof Iran diajarkan di sekolah keagamaan.

Ketika Afghani ke Istanbul, pada tahun 1869-70, dia mengemukakan gagasan yang bersal dari filosof Islam. Dan ketika ke Mesir pada 1870-an, dia mengajar murid-murid mudanya terutama tentang filosof-filosof Iran ini.

Perjalanan yang panjang dalam hidup Afghani dilalui dengan berdakwah di banyak negara. Pada usia yang masih muda, sekitar 20 tahun, Afghani sudah pergi ke India dan berjuang untuk mengusir pemerintahan Ingeris dari bumi Muslim di India. Setelah tinggal di India, Afghani pergi haji ke Makkah, lalu ke kota-kota suci Syi’ah, dan kemudian ke Afghanistan lewat Iran. Perjuangannya yang anti Inggeris ini menyebabkan Afghani harus keluar dari Afghanistan pada Desember 1868, karena jatuhnya A’zham Khan dan naik tahtanya Shir’Ali yang pro Inggris. Kemudian dia ke Bombai, Kairo, lalu ke Istanbul pada 1869.

Pada 1870, Afghani diangkat menjadi menjadi Dewan Pendidikan ‘Utsmaniah resmi yang reformis. Karena ikatannya dengan berbagai ahli pendidikan terkemuka, dia diundang untuk menyampaikan kuliah umum. Namun kuliah umum ini menimbulkan reaksi yang keras dari para ulama, karena dianggap menyimpang dari agama. Akibatnya Afghani diusir dari Istanbul.

Setelah itu Afghani pergi ke Kairo. Di Kairo ini mendirikan Koran yang membahas isu-isu politik. Seiring dengan perubahan kekuasaan di Mesir, di bawah Pemerintahan yang Pro Inggeris, Taufiq. Afghani akhirnya diusir dari Mesir karena sikapnya yang anti Inggeris. Kemudian Afghani pergi ke Hyderabad di India Selatan. Dari India Afghani ke London, dan kemudian pada 1883 ke Paris. Di Paris Afghani bersama dengan Muhammad ‘Abduh, mereka menerbitkan koran berbahasa Arab, Al-’Urwah Al-Wutaqa yang mendapat subsidi dari para pengagum. Sebelum meninggal pada tahun 1987 di Iran, Afghani sempat juga pergi ke Rusia, Eropa dan Irak.

Afghani merupakan figur besar dalam dunia Muslim. Penekanannya bahwa Islam merupakan kekuatan yang sangat penting untuk menangkal Barat dan untuk meningkatkan solidaritas kaum Muslim, seruannya agar ada pembaruan dan perubahan di dalam sistem politik despotis yang berbendera Islam, serta serangannya terhadap mereka yang memihak imperialisme Barat atau yang memecah-belah umat Muslim, semuanya merupakan tema-tema yang diperjuangkannya.

Rabu, 21 Oktober 2009

"Perempuan Berkalung Surban" benarkah menggoyang eksistensi Kyai/Pesantren ?

Dunia perfilman Indonesia saat ini diramaikan oleh kontroversi film "Perempuan Berkalung Sorban" (PBS) karya sutradara Hanung Bramantyo, yang sebelumnya cukup 'dielukan' oleh masyarakat -khususnya muslim- karena telah sukses mendirect film "Ayat-Ayat Cinta" yang bergenre cinta bernuansa Islami.

Dalam film PBS -yang bersetting di Jombang 1985- mengkisahkan tokoh Annisa, putri seorang kyai, yang mencoba berontak dari kungkungan budaya patriarki yang ada di pesantren. Meski pada akhirnya ia tidak bisa menolak ketika sang ayah memaksanya menikah dengan Samsudin, anak Kyai- teman ayahnya- yang diwatakkan sebagai tokoh antagonis, gila seks, licik, dsb, sebuah karakter yang di'image'kan -dalam film ini- sangat bertentangan dengan image seorang anak Kyai yang semestinya. Tidak hanya itu, sistem pembelajaran di pesantren dalam film ini juga digambarkan sangat patriarki, dimana santri-santri dijejali ayat2/hadis2 misoginis dengan sistem pembelajaran yang doktriner dan anti kritik oleh sang Kyai. Selain itu, santri dilarang keras membaca buku-buku yang melenceng dari referensi utama pesantren, yaitu kitab-kitab kuning.

Kondisi tersebut coba dilawan oleh Annisa dengan cara-cara yang cukup berani dan terkesan ekstrem, seperti secara sembunyi-sembunyi Annisa menjejali santri dengan buku-buku yang 'haram' dikonsumsi santri seperti-digambarkan di film ini- buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Selain itu, Annisa juga mencoba keluar dari belenggu rumah tangganya yang 'menyiksa' dengan cara meminta Khudori, sosok laki-laki yang dicintai oleh Annisa yang harus meninggalkan Annisa karena harus menuntut ilmu di Al-Azhar Mesir, yang ketika itu pulang dari mesir untuk menzinainya. Momen ketika Annisa berkata "zinai aku" kepada Khudori tepat ketika Samsudin dan beberapa santri datang dan menyaksikan Annisa sedang berdua dengan Khudori. Keadaan ini dijadikan alasan bagi Samsudin untuk mengalungkan sorban ke leher Annisa dan menyeretnya ke halaman lalu meminta santri dan masyarakat merajam (melempari batu) Annisa dan Khudori karena dianggap telah berzina.

Perlawanan atas tindakan rajam digambarkan, ketika sosok ibu Annisa, yang selama ini banyak diam dan tidak berani membantah suaminya-sang Kyai, dengan keras mengatakan "hanya orang-orang yang tidak punya dosa saja yang boleh melempar batu (merajam)" kalimat ini membuat santri dan masyarakat berhenti melakukan rajam. Peristiwa ini akhirnya membawa Annisa lepas dari belenggu perkawinannya dengan Samsudin dan ia pergi meninggalkan pesantren ke Yogyakarta untuk menuntut ilmu, seperti yang dicitakan sebelumnya, dan pada akhirnya menikah dengan Khudori, meski akhirnya Khudori meninggal. Setelah itu, Annisa digambarkan berjuang sendiri, secara sembunyi-sembunyi dan pelan-pelan untuk merubah budaya patriarki dan sistem pembelajaran di pesantren, serta perlawanannya terhadap kedua kakak laki-lakinya yang meneruskan mengurus pesantren setelah ayahnya meninggal.

Film ini akhir-akhir ini menjadi kontroversi ketika sejumlah ulama pesantren dan MUI memboikot film ini, bahkan ketika pada acara debat di tvOne, Ridwan Saidi, sebagai tokoh yang kontra, sangat emosional menanggapi argumen Hanung, selaku sutradara, dan membodoh-bodohkan Hanung sebagai orang yang tidak mengerti film. Bagi saya, yang telah menonton film ini dan notabene pernah mengenyam pendidikan di pesantren, film ini sebenarnya cukup menarik dan ada sisi positifnya, khususnya terkait dengan masalah hak-hak perempuan dalam bidang pendidikan dan rumah tangga. Saya tidak melihat upaya -apalagi dilakukan dengan sengaja- untuk melecehkan lembaga Pesantren dan sosok Kyai.

Dalam perspektif saya sebagai penonton, apa yang digambarkan dalam film tersebut memang tidak semuanya sesuai dengan realitas, banyak hal yang digambarkan secara berlebihan dari yang sebenarnya, namanya juga film 'sebuah realitas yang diciptakan'. Namun, kalau mau jujur ada beberapa hal dari film tersebut yang memang nyata terjadi di lingkungan pesantren, misalnya ajaran tentang ayat2/hadis2 misoginis, setidaknya ketika saya di pesantren saya diajarkan hadis yang menjelaskan 'kalau istri menolak ajakan suami bersebadan dan suami tidak ridlo atas penolakan tersebut, maka istri akan dikutuk oleh malaikat sepanjang malam', tanpa ada penjelasan yang seimbang akan makna hadis tersebut. Sementara realitas seorang Kyai menghalangi anak gadisnya untuk menuntut ilmu dan memaksa menikah dengan sesama anak Kyai juga masih banyak terjadi saat ini.

Sebagai alumni pesantren, saya tidak merasa film ini merusak atau melecehkan almamater dan Kyai saya, karena saya yakin almamater dan Kyai saya tidak seperti yang digambarkan, sehingga tidak mengharuskan saya marah atau kebakaran jenggot. Film ini sebenarnya, menurut saya, isu sentral yang ingin diangkat adalah masalah gender dan hak-hak perempuan dalam perspektif Islam. Dan pesantren coba diangkat di sini sebagai setting karena pesantren merupakan simbolisasi religiusitas (Islam), yang dalam perjalanannya, tidak dapat dipungkiri cukup kental diwarnai oleh budaya patriarki.

Mengapa kemudian film ini menjadi kontroversi? benarkah karena film ini mencoba 'menggoyang' eksistensi pesantren dan terlebih otoritas Kyai ? tentunya ini adalah resiko yang harus ditanggung oleh pembuat film ini, atau bahkan sudah terprediksi sebelumnya akan menimbulkan kontroversi. Karena sudah jamak terjadi film, novel, lagu atau karya seni lainnya, yang mencoba 'menggoyang' otoritas seseorang/lembaga atau bahkan keyakinan tertentu yang sudah di'image'kan dengan gambaran tertentu dalam masyarakat lalu menampilkannya dalam gambaran yang sedikit melenceng atau bahkan berlawanan, akan mendapat respon, gempuran serta kemarahan yang cukup keras, khususnya dari seseorang/lembaga yang di'image'kan. Ambil contoh lagu Slank yang berjudul 'Gosip Jalanan' yang mencoba 'menggoyang' otoritas lembaga DPR dan membuat merah telinga para anggota dewan meski pada akhirnya lagu itu terbukti benar dengan tertangkapnya al-Amin Nur Nasution. Karya yang hampir sama adalah novel dan film The da Vinci Code, yang mencoba 'menggoyang' keyakinan umat Kristiani akan sosok Yesus, salah satunya- yang digambarkan pernah menikah dengan Maria Magdalena, sehingga menimbulkan kemarahan Vatikan dan umat Kristiani, dan menyerukan untuk memboikot novel dan filmnya.

Lalu bagaimana dengan Perempuan Berkalung Sorban? sungguh ironis ketika masyarakat- khususnya MUI dan Ulama', begitu emosional dan mencecar film tersebut padahal hanya sebagai 'realitas yang diciptakan' ini, sementara ketika realitas sesungguhnya terjadi, dimana seorang pemimpin Pesantren besar bergelar Syaikh (sekali lagi simbol) menikahi gadis di bawah umur untuk dijadikan istri kedua, mereka diam tak berkomentar...